Enam Kali Reshuffle Kabinet Prabowo, Mencari Formasi yang Pas atau Tanda Ketidakstabilan?

liontranslates.com – Menjelang dua tahun masa pemerintahannya, Presiden Prabowo Subianto tercatat telah enam kali melakukan perombakan Kabinet Merah Putih. Reshuffle terbaru terjadi pada 14 September 2026, ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa diganti oleh Suahasil Nazara. Frekuensi pergantian ini memunculkan pertanyaan publik: apa yang sebenarnya sedang dicari Prabowo dari jajaran kabinetnya?

Rangkaian Reshuffle yang Cukup Intens

Sejak dilantik pada Oktober 2024, Prabowo beberapa kali menata ulang kabinetnya. Dimulai dari pergantian Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Februari 2025, lalu dilanjutkan dengan sejumlah perombakan lain di sepanjang 2025 dan 2026. Puncaknya, posisi Menteri Keuangan bahkan sudah dua kali mengalami pergantian dalam waktu relatif singkat.

Tidak semua perubahan bersifat besar. Sebagian berupa pengangkatan pejabat baru, pergeseran posisi, hingga penyesuaian kelembagaan. Namun, secara keseluruhan, intensitasnya cukup tinggi untuk ukuran pemerintahan yang belum genap dua tahun.

Ada Gap antara Target dan Kinerja

Sejumlah pengamat menilai seringnya reshuffle mencerminkan adanya kesenjangan antara harapan Presiden dan kinerja para menterinya. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Rizal Taufikurrahman, menyebut enam kali perombakan sebagai indikasi adanya gap antara target yang ditetapkan Prabowo dengan kapasitas eksekusi kabinet.

Dengan kata lain, Prabowo terlihat sedang terus melakukan koreksi. Ia menyesuaikan orang-orang di sekitarnya agar lebih mampu menjalankan agenda pemerintahan sesuai standar yang ia inginkan.

Pakar kebijakan publik dari UGM, Agustinus Subarsono, juga melihat adanya ketidaksesuaian antara gaya kepemimpinan Prabowo dan sebagian anggota kabinetnya. Dalam kondisi seperti itu, reshuffle menjadi instrumen untuk mencari formasi yang lebih selaras.

Mencari Orang yang “Nyambung”

Setiap presiden memiliki gaya kepemimpinan dan prioritas berbeda. Prabowo dikenal memiliki pendekatan yang tegas dan berorientasi pada hasil. Dalam konteks itu, reshuffle bisa dibaca sebagai upaya mencari orang-orang yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga sejalan secara arah kebijakan dan kecepatan kerja.

Posisi strategis seperti Menteri Keuangan menjadi salah satu yang paling sensitif. Pergantian di posisi ini menunjukkan betapa pentingnya pengelolaan fiskal dalam pemerintahan Prabowo, sekaligus betapa tingginya standar yang diterapkan terhadap pejabat di sektor tersebut.

Antara Efektivitas dan Stabilitas

Di satu sisi, kemampuan melakukan koreksi cepat bisa dilihat sebagai tanda kepemimpinan yang responsif. Pemerintah tidak membiarkan posisi strategis diisi orang yang dianggap kurang cocok dalam waktu terlalu lama.

Di sisi lain, reshuffle yang terlalu sering juga menimbulkan pertanyaan soal stabilitas. Kebijakan publik membutuhkan konsistensi, dan pergantian pejabat yang berulang berpotensi mengganggu kesinambungan program. Publik pun bisa membaca frekuensi ini sebagai tanda bahwa formasi ideal belum sepenuhnya ditemukan.

Apa yang Sebenarnya Dicari?

Dari pola yang terlihat, Prabowo tampaknya sedang mencari tiga hal sekaligus:

  1. Kinerja yang terukur — bukan sekadar loyalitas politik.
  2. Keselarasan arah — menteri yang memahami dan mampu menjalankan prioritas pemerintahannya.
  3. Kecepatan eksekusi — kemampuan bekerja dalam tempo yang sesuai dengan gaya kepemimpinannya.

Reshuffle, dalam konteks ini, bukan sekadar rotasi orang. Ia menjadi alat penyesuaian agar mesin pemerintahan berjalan lebih dekat dengan visi yang diinginkan Presiden.

Enam kali reshuffle dalam waktu kurang dari dua tahun memang bukan angka kecil. Bagi sebagian orang, ini menunjukkan ketidakstabilan. Bagi sebagian lain, ini justru mencerminkan upaya serius untuk menemukan formasi terbaik.

Yang jelas, publik akan terus menilai bukan dari seberapa sering kabinet dirombak, melainkan dari hasil yang akhirnya terlihat. Apakah pergantian demi pergantian itu benar-benar menghasilkan pemerintahan yang lebih efektif, atau justru menambah kesan bahwa formasi ideal masih terus dicari.

Post Comment

You May Have Missed