Intelijen Korsel, Kim Jong Un Alami Obesitas Ekstrem dan Berisiko Penyakit Jantung

liontranslates.com – Badan intelijen Korea Selatan (NIS) melaporkan bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengalami obesitas ekstrem dengan berat badan diperkirakan lebih dari 140 kilogram. Laporan tersebut disampaikan dalam rapat tertutup dengan Komisi Intelijen parlemen Korea Selatan pada Rabu, 30 September 2026.

Temuan Intelijen Seoul

Anggota parlemen Youn Kun-young, yang mengutip laporan NIS, menyatakan bahwa kondisi Kim Jong Un dikategorikan sebagai “obesitas ekstrem.” Karena bobot tubuhnya yang sangat tinggi serta kebiasaan merokok, ia dinilai memiliki risiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular.

Meski demikian, intelijen Korea Selatan menilai belum ada tanda-tanda gangguan kesehatan serius yang menghambat aktivitasnya. Kim masih terlihat mampu melakukan aktivitas fisik, termasuk berlari menaiki tangga, dan terus dipantau secara ketat oleh tim medis pribadinya.

Sejarah Kesehatan yang Menjadi Perhatian

Kesehatan Kim Jong Un selalu menjadi sorotan internasional. Ayahnya, Kim Jong Il, dan kakeknya, Kim Il Sung, sama-sama memiliki masalah obesitas serta kebiasaan merokok, dan keduanya meninggal akibat serangan jantung. Spekulasi mengenai kondisi kesehatan Kim sempat menguat pada 2020 ketika ia menghilang dari publik selama beberapa pekan.

Karena Korea Utara merupakan negara bersenjata nuklir dengan sistem kepemimpinan yang sangat terpusat, kondisi kesehatan pemimpinnya selalu dipantau ketat oleh berbagai negara. Ketidakpastian terkait suksesi dapat berdampak pada stabilitas kawasan.

Aktivitas Publik Tetap Berjalan

Meskipun memiliki faktor risiko kesehatan, Kim Jong Un masih aktif dalam kegiatan publik. Laporan intelijen juga menyinggung peningkatan penampilan putrinya, Kim Ju-ae, yang semakin sering hadir dalam acara resmi dan dinilai memperkuat posisinya sebagai kandidat penerus.

Laporan terbaru intelijen Korea Selatan menegaskan bahwa Kim Jong Un berada dalam kondisi obesitas ekstrem dengan risiko penyakit jantung yang tinggi, namun belum menunjukkan gejala gangguan kesehatan yang berarti saat ini. Pemantauan terhadap kondisinya diperkirakan akan terus berlanjut, mengingat posisi strategisnya di kawasan Asia Timur.

Post Comment

You May Have Missed